Ikutan FlashBlogging?? Apaan tuh 😎

Ikutan acara FlashBlogging ini aslinya karena penasaran sama dunia tulis menulis di dunia maya. Apalagi lokasinya dekat di Aria Gajayana Hotel.  Abis tugas rutin ngojek anak-anak ke sekolah, aku meluncur ke lokasi. 

Begitu masuk agak *awkward * juga sih, kok banyak muka-muka muda  😎.  Untung ada Jeng Syahrini yang nemenin biar gak salah tingkah hehehe.  Pokok gak ngedabrus ae yo cyiin  😁. 

Sharing pertama dari mbak Mira Sahid dengan pengalamannya sebagai blogger dan founder emak blogger. Wah ada juga ya komunitas emak blogger #kudet. 

Dear blogger, you are what you write. Think before you post. Bener banget quote ini. Karena sebebas apapun isi tulisan kita jangan sampai lah merugikan orang lain. Apalagi menulis berita hoax yang gak bisa dipertanggungjawabkan. Semakin banyak manfaat tulisan kita buat orang lain insyaAlloh kita dapat pahala kok. Ciptakan manfaat bukan nambah dosa ✌️. 



Sesi kedua diisi pak Andoko Darta dari Tim Komunikasi Presiden yang membuat feature sudut istana. Diwakili teman dari Aceh dan Papua yang menggambarkan keragaman Indonesia dan betapa luasnya negeri ini. Beberapa video yang ditayangkan membuat aku bersyukur dengan kehidupan di Jawa. Bayangkan perjuangan teman-teman di luar Jawa yang aksesnya terbatas untuk mendapatkan bahan bakar dan listrik. Disini? Semua tersedia. 😪. 


Nah, ini dia yang menarik. Peserta termuda dan tertua mendapat payung Jokowi #envy.  Ikutan kuisnya juga gak lolos. Duh, emang belum rejeki mbakyu 😄. 



Waktu istirahat pun tiba #hore 😋.  Sambil menikmati hidangan kita dimanjakan dengan pemandangan kota Malang dari ketinggian.  Perut kenyang #alhamdulillah lanjut sholat Dhuhur dulu ya. Labjut sesi foto di kolam renang wkwkkwkw. 


Suasana jadi lebih serius setelah istirahat, karena ada lomba penulisan blog yang hadiahnya fresh money. Gak disebutkan sih jumlahnya tapi semua pasti mau dong uang 😙.

Bahkan ada yang asik blogging sambil gedong anak.. #saluuuut


Jangan lupakan peran supporting team urusan perut yang ikut juga sibuk menyiapkan jajanan buat peserta



Akhirnya tulisan ini pun harus diposting segera. Karena waktu kurang 7 menit sodara-sodara 😘😘😘😘😘






Pengalaman WOW melatih rajut di Bromo 😁😁😁






Sedikit nostalgia ah ..Kejadiannya sudah lama sih, hampir 6 tahun yang lalu. Tapi masih berkesan banget buat aku sampai sekarang. Lanjut ye ke ceritanya :)

Waktu itu tahun 2012,  sekitar 5 bulan setelah melahirkan ketika ada sms dari seorang kenalan di Jakarta. Dia mengabarkan kalau ada temannya dari Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang ingin mengadakan pelatihan merajut di daerah Bromo selama 2 hari dan  menawarkan aku dan teman-teman  milis mari  merajut di Jatim untuk mengajar disana. Wah  kesempatan emas pikirku, karena terus terang aku belum pernah ke Bromo . Menyelam sambil minum air lah  hehehe. Singkat cerita aku ambil kesempatan itu.

Setelah persiapan selama sebulan untuk nego biaya, persiapan alat bahan dan materi akhirnya hari H pun tiba. Di hari pertama kami berangkat dari Surabaya menuju Tosari Pasuruan. Tim hari pertama adalah mbak Thata, mbak Neni, mbak Ririk dan aku. Perjalanan ditempuh kurang lebih 2,5 jam melewati pemandangan yang hijau dan udara segar. 
Alhamdulillah perjalanan lancar dan gak macet seperti sekarang >.<

Sambil berjalan ke ruangan acara di balai desa kami agak tertegun melihat sekumpulan bapak-bapak yang duduk di dalam. Masak pesertanya laki-laki ? ah, bukan kali ya. Itu acaranya beda mungkin. Tapi kok panitia dari Dinas Pariwisata mempersilakan masuk di ruangan itu ya #berpikirkeras.

Daaaaaaaan terjawablah teka teki itu #senyumsimpul, ada miskomunikasi antara pak Kepala Desa dengan tim Dinas Pariwisata setempat tentang peserta pelatihan. Pihak setempat tidak tahu kalau materinya tentang merajut hihihihi.. but, the show must go on. Untunglah materi yang kami ajarkan adalah knitting dasar jadi bapak-bapak oke aja kalau mau belajar. Toh di luar negeri banyak juga perajut laki-laki :D. 

Peserta pelatihan kebanyakan adalah supir jip hardtop yang biasa mengantar wisatawan ke Gunung Bromo. Kalau dilihat dari tampang kayaknya pesimis bisa ngerjakan knitting. Ada yang bertato, ada yang rambutnya  gondrong, ada juga yang pakai anting. But, don't judge the books by its cover. Buktinya kebanyakan malah cepat bisa dan menemukan sendiri style nya. Kami mengajarkan teknik english tapi ada sekitar 2-3 orang yang pakai teknik continental..Keren kan? #bangga

Liat deh beberapa foto di bawah ini.....

Di tengah peserta pelatihan


Asyik merajut


Pelatihan kali ini penuh perjuangan juga sebenarnya. Selain harus meninggalkan anak-anak di rumah neneknya, ada masalah lain yang lumayan bikin badan panas dingin. Jadi, karena masih 5 bulan lalu melahirkan  maka produksi ASI masih di periode banyak-banyaknya dan selama seharian gak bisa dikasihkan ke si kecil. Wah kalo ditanya rasanya ya gak karu-karuan rasanya .. Di tengah acara terpaksa ijin keluar untuk tindakan emergency #yangibu-ibutaulahmaksudnya :P

Setelah 6 jam acara pelatihan beberapa peserta bisa menyelesaikan syal knitting yang menjadi materi pelatihan kali ini. Lumayan lah untuk pemula, TOP!!! Tujuan dari pemerintah adalah agar warga setempat bisa membuat suvenir oleh-oleh buatan penduduk lokal . Karena selama ini mereka kulakan produk jadi dari kota Malang dan sekitarnya.

Saatnya pulang..duh rasanya masih pengen lama disini. Sayangnya kami memutuskan tidak menginap disini karena sesuatu dan harus pulang. Besok masih ada sesi 2 pelatihan di sisi lain kawasan wisata Gunung Bromo.. Fighting!!!!


Hari kedua kami berangkat di jam yang sama dari Surabaya. Kali ini ada perubahan tim yaitu mbak Thata, mbak Neni, mbak Nusanti dan aku. Mbak Ririk tidak bisa ikut karena urusan pekerjaan yang tidak bisa ditinggal. Lokasi yang kami tuju adalah desa Ngadisari Probolinggo. Di sepanjang perjalanan di kawasan menuju  lokasi kedua lebih didominasi perkebunan sayur warga. Agak sedikit berbeda denga hari sebelumnya yang lebih banyak pepohonan. 

Peserta di desa Ngadisari lebih didominasi oleh perempuan, tapi ada juga bapak-bapak yang ikut pelatihan ini. Dan peserta disini lebih antusias dengan materi pelatihan. Mereka lebih banyak bertanya tentang teknik dan bahan apa saja yang sebaiknya dipakai, bagaimana cara mendapatkannya dll. Dan memang akhirnya lebih banyak yang menyelesaikan proyek syal knitting ini dibandingkan di desa Tosari. Pun, pihak pemerintahnya juga lebih perhatian ke acara ini baik dari perwakilan pemerintah desa setempat sampai perwakilan pemerintah Kabupaten Probolinggo. Alhamdulillah acara hari kedua pun berjalan lancar.


foto bareng peserta pelatihan

membantu peserta belajar knitting :)

Sebenarnya desa Ngadisari ini dekat sekali dengan lokasi wisata Gunung Bromo, tapi sayangnya aku belum berkesempatan melihat-lihat kesana. Bahkan sampai hari ini belum ada kesempatan ke Bromo lagi #curcol.





Pemandangan di depan gedung pertemuan. Adem ya liatnya



Yah, sekilas pengalaman dua hari di kawasan Gunung Bromo ini hanya sebagian dari ingatan yang tersisa.. Dulu mau nulis pengalaman ini pending terus hehehe..

Wish i could go there again..Amiiin..

#update 2019..akhirnya sudah kesanaa horee

My Blog List

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails
Powered by Blogger.